Lagenda Cerita Bak Tuwi

Cerita Rakyat

Lagenda Cerita Bak Tuwi
Tambahkan teks


Pada zaman dahulu kehidupan masyarakat masih sangat kental dengan budaya dan adat istiadat dan juga kepercayaan agama sangat kuat yang di anut oleh masyarakat setempat yang mereka percayakan secara turun temurun serta warisan budaya dari leluhur mereka. Hal demikian itu tidak lepas dari sokongan dari kepala sang penghulu dari etnis mereka yang mana menganggap sesuatu itu memang benar-benar ada dan mereka sendiri tidak berani untuk melanggar suatu aturan yang mereka anggap itu adalah keramat.

Dulu disebuah gampoeng (kampung) pedalaman yang bernama Ateuh Lueng Ie. Di gampoeng ini terdapat sebuah sungai mungil yang membelah gampoeng menjadi dua. Di sungai ini juga masyarakat setempat menjadi sebagai sarana tempat pemandian, mencuci dan juga mencari ikan. Kehidupan masyarakat di gampoeng ini merupakan keseluruhnya adalah petani dan tukang kebun. Ada juga diantara mereka yang memilih sebagai peternak lembu, kerbau sebagai alat pembantu mereka untuk membajak sawah saat musim terun sawah tiba. 

Kehidupan  kampung ini  seakan kecukupan semua, dari hamparan sawah, kebun yang hijau, batang pohon yang besar-besar dan udara yang sejuk menjadikan kampung Ateuk Lueng ini semakin di nikmati oleh setiap panduduknya bahkan musafir yang sekedar lewat.

Kegiatan malam juga di hidupkan dengan syiar dan syair islam seperti melakukan talil atau pengajian, anak-anak gampoeng yang sedang belajar agama dan juga bimbingan untuk warga juga diadakan dimana tempat ibadah mereka (Meunasah).

Di gampoeng ini pula ketika mengadakan suatu acara misalnya seperti ta'arufan atau melangsungkan pernikahan maka sudah pastinya dilakan secara adat budaya dan juga islami. Karena seluruh warga kampung disini tentulah muslim. 

Yang menarik dari cerita rakyat penduduk asli menceritakan tentang kejadian-kejadian aneh yang pernah ada didesa itu sendiri. Dimana pada hilir sungai itu terdapat hutan yang begitu rimbun dipenuhi dengan hutan bambu serta pohon besar yang terdapat beberapa kuburan keramat dibawahnya. 

Ditempat inilah yang dianggap keramat oleh warga setempat tempat ini selalu menyediakan berbagai alat prasmanan yang terbuat dari emas murni yang diberikan untuk warga apabila warga membutuhkan. 

Konon katanya dari mulut ke mulut. Di desa itu setiap warga yang hendak menikahkan anaknya dan berlangsungnya acara tentulah keluarga membutuhkan biaya yang besar dan menyediakan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan. 

Namun lain ceritanya dikampung ini, warga yang hendak melakukan acara perkawinan disini cukup dengan datang ke hilir sungai itu dengan membawakan sesajian tepung tawar dan padi (peusijuk-breh pade) ke tempat yang dimaksud itu. Setelah sesajian dan berdoa maka keesokan harinya sudah disediakan, mucul kepermukaan berbagai perlatan dan kebituhan yang terbuat dari emas murni. Dan warga cukup dengan mengangkut saja ramai-ramai dibawakan ketempat acara tersebut. 

Setelah acara selesai maka peralatan dan barang-barang yang diambil itu harus dikembalikan dan setelah disusun rapi maka dilakukan sesajen sekali lagi. Begitu berkhir orang tidak melihatnya maka peralatan tersebut akan hilang lagi. Istilahnya diambilkan lagi oleh pemiliknya lagi. 

Memang kedengarannya agak mistis namun begitulah keseharian bahkan hingga berulang-ulang masyarat desa setempat melakukannya. Meskipun mistis dan berhubungan dengan alam lain namun masyarat disini bisa saja hidup berdampinggan dengan mereka hingga beberapa abad lamanya.

Tidak jauh dari situ masih dalam wilayah kampung yang sama yaitu Ateuk Lueng Ie juga ada tempat yang seperti demikian itu. Mahluk penyediaan sesajian prasmanan dalam masyarakat setempat. Tepatnya di Mon Lhok (Yup Trieng).

Disini juga mendapatkan perlakuan yang demikian dengan memberikan sedikit sesajian (sipreuk breuh pade) maka alat-alat yang dibutuhkan akan muncul segalanya dan masyarakat hanya mengambil yang seperlunya saja apa yang dibutuhkan. 

Untuk sesajian ini biasanya dilakukan oleh pendahulu adat atau ketua adat, bisa saja tgk. Imuem atau pendahulu adat yang sudah dipercayakan oleh penduduk setempat. 

Kebenaran kisah itu nyata adanya merunurut pengakuan kepala desa (Pak Keuchik) setempat. Dan pengakuan dari warga yang memang penduduk asli desa tersebut. 

Namun diera sekarang ini hal yang demikian itu sudah tidak bisa dimunculkan lagi. Karena menurut argumen para warga yang mengatakan dulu itu ada sebuah keluarga yang melakukan ritual seperti yang jelaskan sengaja menukarkan barang atau piringan emas itu dengan benda lain. 

Mungkin mahluk tersebut marah dan merasa dibohongi oleh masyarakat setempat sehingga setelah kejadian itu hingga sekarang hal-hal gaib yang berbaur mistis itu tidak muncul lagi kepermukaan. 

Nah demikianlah sedikit cerita mistis dari Gampong Ateuk Lueng Ie, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Mungkin diantara sahabat ada yang penasaran dengan pemaparan saya silahkan berkunjung ke desa tersebut yang beralamat sekarang Gampong Ateuk Lueng Ie. Jalan Dayah Riyadhussalihin, Kemukiman Gani. Tidak jauh dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Blang Bintang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Lagenda Cerita Bak Tuwi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel